Senin, 28 Mei 2018

Empat Pelaku Pembantai Beruang Madu di Riau akan Disidangkan

Pekanbaru (WartaMerdeka) - Kepala Balai Gakkum KLHK (Penegakkan Hukum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan) Wilayah Sumatera, Edward Sembiring berharap agar masyarakat mengetahui bahwa perburuan dan perdagangan satwa liar dilindungi atau bagian-bagiannya merupakan perbuatan pidana.

Berkas perkara empat orang pelaku pembantaian beruang madu masing-masing yaitu JS, S, S dan BP, telah dinyatakan lengkap oleh Kejaksaan Tinggi Riau (22/5). Penyidik Balai Gakkum KLHK Wilayah Sumatera, segera menyerahkan tersangka dan barang bukti kepada Jaksa Penuntut Umum, Kejaksaan Tinggi Riau.

“Semoga penangkapan ini memberikan efek jera. Jika masih ada pelaku yang masih nekat, Balai Gakkum KLHK Wilayah Sumatera bersama instansi terkait akan segera menangkap dan melakukan proses hukum sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku,” tegas Sembiring kepada pers (27/5).

Pelaku disergap oleh Tim yang terdiri dari SPORC Brigade Beruang Balai Gakkum LHK Wilayah Sumatera, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam, Satuan Reskrim Polres Indragiri Hilir, sekitar pukul 14.00 di Desa Karya Tunas Jaya Kecamatan Tempuling Kabupaten Indragiri Hilir, Riau (2/4).

Pada TKP pertama, Tim berhasil mengamankan JS yang berperan sebagai tukang sembelih beruang, dan dari penangkapan tersebut ditemukan bagian-bagian tubuh beruang berupa kulit, potongan kaki, tengkorak kepala, dan beberapa potongan daging beruang.
Menindaklanjuti informasi dari JS, sekitar pukul 16.00, Tim menuju rumah pelaku lainnya yakni GS yang juga berperan sebagai penyembelih dan Tim menemukan barang bukti yang diamankan berupa saru pucuk senapan angin, satu pisau dan satu karung potongan-potongan daging beruang.

Kemudian Tim berhasil mengamankan FB yang berperan sebagai tukang sembelih juga. Pelaku lainnya JP ditemukan di rumahnya setelah ditunjukkan oleh S. Barang bukti yang diamankan dari rumah JP adalah bagian-bagian tubuh beruang dan 1 karung berisi tali-tali nilon yang menurut JP merupakan perlengkapan jerat beruang.

Penyidik menjerat tersangka dengan pasal Pasal 21 Ayat 2 Huruf a dan atau Huruf d Jo. Pasal 40 Ayat 2 Undang-Undang No 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya Jo. PP Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, dengan ancaman pidana penjara maksimal 5 tahun dan denda maksimal 100 juta rupiah (lw).


Foto: abri
Share:

Artikel Unggulan

Cara Memilih Presiden yang Baik dan Benar